BRIN Ungkap Akar Masalah Kegagalan Startup di Indonesia

6 Min Read

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyoroti beberapa faktor krusial yang menjadi penyebab utama kegagalan banyak perusahaan rintisan atau *startup* di Indonesia. Temuan ini mengemuka dalam berbagai kesempatan, termasuk ajang penting seperti Jakarta Innovation Days (JID) 2025 di Jakarta Pusat. BRIN menekankan bahwa permasalahan mendasar meliputi ketidaksesuaian produk dengan kebutuhan pasar, kurangnya dukungan ekosistem riset, struktur internal yang rapuh, dan minimnya penyerapan inovasi oleh industri.

Fokus utama dari permasalahan ini, menurut BRIN, adalah seringnya produk atau layanan yang dikembangkan *startup* tidak sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini menciptakan jurang antara inovasi yang dihasilkan dengan daya serap pasar. Tanpa riset pasar yang mendalam dan validasi kebutuhan, *startup* berisiko membangun solusi untuk masalah yang sebenarnya tidak ada atau tidak menjadi prioritas utama konsumen.

Sekretaris Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yurike Patrecia Marpaung, menjelaskan dengan tegas kondisi ini. “Banyak sekali *startup* gagal, alasan utamanya *no marketing*. Jadi, sebenarnya apa yang dihasilkan *startup* tidak *inline* (sejalan) dengan apa yang dibutuhkan masyarakat,” kata Yurike Patrecia Marpaung seperti dilansir *Koran Jakarta* pada Selasa (21/10) malam. Pernyataan ini menegaskan perlunya *startup* untuk lebih responsif terhadap dinamika pasar dan kebutuhan riil pengguna.

Selain itu, Marpaung juga menyoroti aspek dukungan terhadap hasil riset. Ia mengungkapkan bahwa banyak *startup* yang jatuh karena inovasi yang mereka kembangkan tidak memperoleh dukungan memadai. Dukungan ini bisa berupa pendanaan yang berkesinambungan atau regulasi yang kondusif. “Sering sekali *startup* itu jatuh, karena hasil riset yang mereka kembangkan tidak mendapat dukungan, apakah pendanaan atau regulasi,” tambahnya, masih dari pernyataan yang dilansir *Koran Jakarta*. Kondisi ini berimplikasi luas terhadap keberlanjutan ekosistem riset dan inovasi nasional, di mana banyak potensi inovatif akhirnya kandas di tengah jalan.

BRIN juga mengidentifikasi bahwa kegagalan *startup* seringkali tidak disebabkan oleh ketiadaan modal semata, melainkan karena fondasi internal yang lemah. Struktur organisasi yang rapuh, kurangnya manajemen risiko yang efektif, serta ketidaksiapan dalam menghadapi tantangan operasional dan finansial, menjadi faktor penentu. Sebuah *startup* dengan ide brilian sekalipun dapat terhenti perkembangannya jika tidak memiliki kerangka bisnis dan operasional yang kokoh untuk menopangnya.

Permasalahan lain yang tak kalah penting adalah minimnya penyerapan inovasi oleh industri dalam negeri. BRIN mencatat adanya disparitas antara hasil-hasil riset dan inovasi yang telah diciptakan dengan kesediaan industri untuk mengadopsi dan mengembangkannya lebih lanjut. Ini menjadi penghalang serius bagi komersialisasi inovasi lokal dan menghambat pertumbuhan *startup* yang berbasis riset.

Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amarulla Octavian, sebelumnya juga telah mengungkapkan keprihatinannya terkait isu ini. “Banyak industri tak serap hasil inovasi,” ungkap Amarulla Octavian seperti diberitakan *IDN Times Banten*. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan struktural dalam membangun jembatan antara dunia riset dan inovasi dengan sektor industri, yang mestinya menjadi mitra strategis dalam mengakselerasi kemajuan teknologi dan ekonomi nasional.

Implikasi dari berbagai penyebab kegagalan *startup* ini sangat besar terhadap iklim inovasi di Indonesia. Jika masalah-masalah fundamental ini tidak diatasi, akan sulit bagi Indonesia untuk menciptakan *startup* yang tangguh dan mampu bersaing di kancah global. Kegagalan *startup* bukan hanya kerugian bagi para pendirinya, tetapi juga potensi kerugian ekonomi dan hilangnya kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja serta solusi inovatif bagi masyarakat.

BRIN secara proaktif terus mendorong perbaikan ekosistem inovasi, mulai dari peningkatan kualitas riset yang berorientasi pasar, penyediaan akses pendanaan dan regulasi yang mendukung, hingga membangun sinergi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, *startup*, dan pelaku industri. Kolaborasi multi-pihak ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan *startup* yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Dengan demikian, *startup* di Indonesia dapat berkontribusi maksimal dalam mendorong perekonomian dan mencapai kemandirian inovasi nasional.

Upaya BRIN untuk mengidentifikasi dan menguraikan akar masalah ini merupakan langkah penting dalam merumuskan strategi yang lebih tepat. Dengan pemahaman yang komprehensif tentang tantangan yang ada, diharapkan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat merancang kebijakan dan program yang efektif untuk mengurangi tingkat kegagalan *startup* dan memupuk ekosistem inovasi yang lebih kuat di masa depan.

Edukasi dan pendampingan bagi para pendiri *startup* juga menjadi krusial. Memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang kebutuhan pasar, strategi pemasaran yang efektif, serta kemampuan untuk membangun struktur bisnis yang resilient, akan sangat membantu dalam meningkatkan peluang keberhasilan. Selain itu, keterbukaan dan kemauan industri untuk berkolaborasi dengan *startup* dan menyerap inovasi lokal akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.

Pada akhirnya, menciptakan ekosistem *startup* yang sehat dan berkelanjutan membutuhkan komitmen dari berbagai pihak. Dari regulator yang menyediakan kerangka kerja yang mendukung, investor yang berani mendanai inovasi prospektif, hingga industri yang terbuka terhadap adaptasi teknologi baru, semua memiliki peran vital. Dengan mengatasi akar masalah yang diungkap BRIN, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan inovasi di kawasan.

Share This Article