JACKSON, Mississippi – Partai Demokrat Mississippi berhasil memecahkan dominasi supermayoritas Partai Republik di Senat Negara Bagian, menyusul kemenangan dalam pemilihan khusus yang digelar pada Selasa, 4 November 2025. Hasil ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap politik di negara bagian yang dikenal sebagai basis kuat Republik selama lebih dari satu dekade.
Kemenangan Demokrat terjadi setelah putusan pengadilan federal yang memerintahkan penggambaran ulang sejumlah distrik legislatif. Hakim memutuskan bahwa peta pemilu sebelumnya melanggar Undang-Undang Hak Suara karena secara ilegal mengurangi kekuatan suara warga kulit hitam. Redistricting ini membuka jalan bagi kandidat Demokrat untuk meraih kemenangan di distrik-distrik yang baru dibentuk, khususnya di sekitar DeSoto County di Mississippi barat laut dan Hattiesburg di wilayah selatan.
Dalam pemilihan khusus yang sangat dinantikan, Demokrat berhasil merebut dua kursi Senat dari tangan Republik. Mantan Wali Kota Hattiesburg, Johnny DuPree, memenangkan Distrik Senat 45 dengan sekitar 70 persen suara, sementara Theresa Gillespie Isom mengamankan kemenangan di Distrik Senat 2. Keberhasilan ini menurunkan jumlah kursi Republik di Senat dari 36 menjadi 34 dalam total 52 kursi. Untuk mempertahankan status supermayoritas dua pertiga, Partai Republik membutuhkan setidaknya 35 kursi.
“Kemenangan tadi malam membuktikan bahwa Mississippi bukan lagi kesimpulan yang pasti—kami adalah negara bagian medan pertempuran,” kata Ketua Partai Demokrat Mississippi, Cheikh Taylor, seperti dilansir WLBT. Ia menambahkan bahwa hasil ini merupakan “teguran bersejarah terhadap ekstremisme.”
Penetapan ulang peta distrik dan investasi nasional yang signifikan dari Komite Kampanye Legislatif Demokrat (DLCC) serta Komite Nasional Demokrat (DNC) turut berperan dalam keberhasilan ini. Heather Williams, Presiden DLCC, menyatakan bahwa, “Ketika ada peta yang representatif—dan ada proses yang benar-benar memberikan pilihan kepada pemilih siapa pejabat terpilih mereka—kami dapat terhubung dengan pemilih dan menang. Mississippi adalah contoh utama dari hal itu.”
Meskipun Republik masih memegang kendali mayoritas di Senat, hilangnya supermayoritas dua pertiga berarti mereka kini akan membutuhkan dukungan bipartisan untuk meloloskan undang-undang tertentu, seperti amandemen konstitusi atau mengesampingkan veto gubernur. Sebelumnya, Republik dapat melakukan tindakan legislatif ini tanpa satu pun suara Demokrat.
Ketua Partai Republik Mississippi, Mike Hurst, mengakui kekecewaan atas hasil ini. “Republik adalah pihak yang tidak diunggulkan di distrik-distrik yang telah digerrymander oleh pengadilan yang tidak terpilih,” kata Hurst dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Yahoo News. Ia menambahkan, “Kemenangan Demokrat kemarin setara dengan mencetak poin di kuarter keempat saat kalah telak dalam pertandingan.”
Di Dewan Perwakilan Rakyat Negara Bagian, Partai Republik masih mempertahankan mayoritas kuat, dengan 79 kursi dibandingkan 39 kursi Demokrat dan 3 independen per November 2025. Meskipun ada satu kemenangan Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat, yaitu Justin Crosby di Distrik 22, perubahan ini tidak memecahkan status mayoritas Republik di Dewan tersebut.
“Mematahkan supermayoritas berarti memulihkan checks and balances—dan memastikan bahwa suara setiap warga Mississippi dipertimbangkan dalam pemerintahan negara bagian mereka,” kata Wakil Ketua Partai Demokrat Mississippi, Jodie Brown, dalam sebuah siaran pers partai, seperti dilansir ABC News. Kemenangan ini diharapkan membawa perubahan dalam dinamika legislatif dan membuka ruang untuk negosiasi serta kompromi yang lebih besar di Senat Mississippi, meskipun Partai Republik masih memegang mayoritas tiga perlima yang memungkinkan mereka untuk meloloskan undang-undang terkait pajak tanpa dukungan Demokrat.
