Mumbai, sebuah kota metropolitan yang padat, kini menjadi saksi bisu pertarungan sengit antara para pencinta merpati dan otoritas kota. Larangan pemberian pakan merpati di tempat umum yang diberlakukan oleh Brihan Mumbai Municipal Corporation (BMC) telah memicu gelombang protes, terutama dari komunitas Jain, yang menganggap tindakan ini sebagai pelanggaran terhadap keyakinan agama mereka. Konflik ini menyoroti benturan kompleks antara kebijakan kesehatan masyarakat dan tradisi budaya serta spiritual yang mengakar.
Larangan pemberian pakan merpati ini diprakarsai menyusul perintah dari Pengadilan Tinggi Bombay, dengan alasan utama kekhawatiran serius terhadap kesehatan masyarakat. Kotoran merpati diidentifikasi sebagai penyebab utama berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan pernapasan dan kerusakan paru-paru yang irreversibel. Para ahli medis mendukung penuh klaim ini, menekankan korelasi tinggi antara paparan kotoran merpati dan penyakit paru-paru yang parah.
“Larangan ini adalah langkah krusial untuk melindungi kesehatan masyarakat. Kotoran merpati terbukti secara ilmiah menyebabkan masalah pernapasan serius dan kerusakan paru-paru yang tidak dapat diubah,” kata seorang pejabat senior dari Brihan Mumbai Municipal Corporation (BMC), seperti dilaporkan NDTV. Pernyataan ini menegaskan posisi pemerintah kota dalam memprioritaskan kesehatan warganya di tengah kepadatan populasi Mumbai.
Namun, bagi komunitas Jain, memberi makan merpati, yang dikenal sebagai praktik ‘jeev daya’ atau belas kasih terhadap semua makhluk hidup, adalah inti dari ajaran agama mereka. Praktik ini telah dilakukan selama berabad-abad di kabutarkhanas, pusat-pusat pemberian pakan merpati tradisional yang tersebar di seluruh kota. Larangan ini, oleh karenanya, dianggap sebagai serangan langsung terhadap kebebasan beragama mereka dan telah memicu kemarahan serta perlawanan yang kuat.
“Bagi kami, memberi makan merpati adalah bagian integral dari *jeev daya*, belas kasih terhadap semua makhluk hidup, sebuah praktik yang dihormati dalam tradisi Jain selama berabad-abad,” ujar seorang perwakilan terkemuka dari komunitas Jain yang memimpin protes, seperti dikutip dari laporan NPR. Mereka telah mengadakan pawai diam dan bahkan mencoba membuka kembali penutup yang dipasang oleh otoritas di kabutarkhanas untuk melanjutkan praktik suci mereka.
Perlawanan para pencinta merpati tidak hanya terbatas pada demonstrasi jalanan. Mereka juga telah membawa kasus ini ke ranah hukum. Meskipun Pengadilan Tinggi Bombay telah menguatkan larangan tersebut dan memerintahkan BMC untuk mengambil tindakan terhadap para pelanggar, serta Mahkamah Agung menolak untuk campur tangan dalam keputusan Pengadilan Tinggi, komunitas ini tetap gigih. Mahkamah Agung memberikan izin kepada para pemohon untuk mencari modifikasi dari Pengadilan Tinggi, menyisakan celah harapan bagi mereka.
Situasi ini bahkan telah merambah ke arena politik. Seorang biksu Jain telah mengumumkan pembentukan partai politik baru yang akan berkompetisi dalam pemilihan BMC mendatang, dengan tujuan utama menentang larangan pemberian pakan merpati. Langkah ini mengindikasikan bahwa masalah ini telah bertransformasi dari sekadar isu kesehatan dan agama menjadi platform politik yang signifikan.
Dalam upaya mencari jalan tengah, Kepala Menteri Mumbai telah menyarankan penemuan solusi yang menghormati sentimen keagamaan sekaligus mengatasi masalah kesehatan. Sebuah panel ahli telah dibentuk untuk meninjau masalah ini secara menyeluruh. BMC juga dilaporkan sedang menjajaki lokasi alternatif yang diatur untuk pemberian pakan merpati di area yang kurang padat penduduk, seperti Taman Nasional Sanjay Gandhi (SGNP) dan Aarey, sebagai kompromi yang memungkinkan.
Krisis merpati di Mumbai ini merefleksikan tantangan kompleks yang dihadapi kota-kota besar modern, di mana urbanisasi yang pesat sering kali berbenturan dengan nilai-nilai tradisional dan kebutuhan akan kesehatan publik. Pertarungan ini jauh dari selesai, dan masa depan ribuan merpati serta para pencintanya di Mumbai masih menjadi subjek perdebatan yang intens dan pencarian solusi yang berkelanjutan.
