Film aksi-perang “The Ambush,” yang dalam judul aslinya dikenal sebagai “Al Kameen,” menghadirkan ketegangan luar biasa di tengah gurun. Film garapan sutradara Pierre Morel, yang sebelumnya sukses dengan “Taken,” ini diadaptasi dari kisah nyata penyergapan tentara Uni Emirat Arab (UEA) pada tahun 2018. Meskipun sering dikaitkan dengan konflik di Afghanistan, latar belakang sebenarnya dari peristiwa genting ini adalah perang yang berkecamuk di wilayah pegunungan Mocha, Yaman. Film ini berpusat pada upaya penyelamatan yang berbahaya terhadap tiga prajurit yang terjebak di garis musuh.
Peristiwa nahas itu terjadi pada musim dingin tahun 2018. Tiga tentara UEA, yaitu Sersan Ali Al-Asmari, Al Hindasi, dan Bilal Al Saadi, sedang melaksanakan patroli rutin terakhir mereka di sebuah ngarai sempit di Mocha, Yaman. Misi ini seharusnya menjadi patroli penutup sebelum jadwal kepulangan mereka. Namun, takdir berkata lain. Kendaraan lapis baja mereka tiba-tiba disergap oleh kelompok pemberontak bersenjata berat. Mereka terjebak di bawah hujan tembakan musuh, terluka parah, dan kehilangan kontak komunikasi dengan pangkalan mereka. Situasi yang tak terduga ini dengan cepat mengubah patroli rutin menjadi mimpi buruk yang mematikan.
Ketegangan memuncak seiring dengan upaya para prajurit untuk bertahan hidup di tengah kepungan musuh dan sumber daya yang menipis. Komandan pangkalan di Mocha yang menyadari ada yang tidak beres segera mengerahkan misi penyelamatan darurat. Namun, medan yang tidak ramah, ditambah dengan keberanian musuh yang telah mengantisipasi bantuan, menjadikan operasi ini sangat berisiko. Setiap detik berharga dalam perlombaan melawan waktu untuk mencapai dan menyelamatkan rekan-rekan mereka yang terancam.
Film “The Ambush” sendiri dipuji karena penggambaran yang realistis dan intensitasnya. “The Ambush adalah film aksi intens tanpa henti yang berdasarkan kisah nyata dari sutradara Taken,” kata seorang kritikus film seperti dilansir Rotten Tomatoes, menggambarkan betapa mendalamnya pengalaman menonton film ini. Ini bukan sekadar cerita fiksi, melainkan sebuah narasi yang diangkat dari pengalaman nyata yang penuh tekanan dan bahaya. Adaptasi kisah nyata ini memberikan bobot emosional yang kuat pada film, memungkinkan penonton merasakan ketegangan dan perjuangan yang dihadapi para prajurit.
Proses produksi film ini juga tidak main-main. “Lebih dari 400 anggota pemeran dan kru terlibat dalam Al Kameen, yang seluruhnya difilmkan di UEA, menjadikannya produksi film berbahasa Arab terbesar di GCC,” ungkap perwakilan Image Nation Abu Dhabi, menggarisbawahi skala dan ambisi di balik proyek ini. Meskipun berlatar di Yaman, seluruh syuting dilakukan di Uni Emirat Arab, memanfaatkan lanskap gurun yang menakjubkan untuk menciptakan suasana otentik medan perang. Film ini bahkan memecahkan rekor sebagai film berbahasa Arab dengan pendapatan tertinggi di UEA, menandakan penerimaan yang sangat baik dari publik.
Para pemeran utama, termasuk Marwan Abdulla Saleh sebagai Sersan Ali Al-Asmari, juga mendapat apresiasi atas performa mereka yang meyakinkan. Mereka berhasil menyampaikan emosi dan tekanan yang dirasakan oleh para prajurit di medan perang, membuat penonton bersimpati pada perjuangan mereka. Kisah persaudaraan, keberanian, dan pengorbanan menjadi inti cerita yang kuat, menyoroti aspek kemanusiaan di tengah konflik bersenjata.
Secara keseluruhan, “The Ambush” bukan hanya sekadar film aksi-perang, tetapi juga sebuah penghormatan terhadap keberanian para prajurit yang mempertaruhkan nyawa mereka di medan tugas. Film ini berhasil menangkap esensi ketegangan, bahaya, dan semangat persatuan yang ada di garis depan, menjadikannya tontonan yang memukau dan menggugah hati, serta menjadi bukti nyata dari kemampuan sinema Timur Tengah dalam menghasilkan karya berkualitas internasional.
