Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Galeri24 diproyeksikan akan menembus level psikologis Rp 3 juta per gram pada Kuartal II tahun 2026. Prediksi optimis ini muncul di tengah gejolak ekonomi global yang terus-menerus dan meningkatnya permintaan terhadap aset *safe haven*. Para analis pasar komoditas melihat tren kenaikan signifikan yang akan terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, menandai era baru bagi investasi logam mulia di Indonesia.
Saat ini, pergerakan harga emas di pasar domestik sudah menunjukkan indikasi kuat menuju target tersebut. Pada Minggu, 25 Januari 2026, harga emas Galeri24 yang tersedia di Pegadaian tercatat di angka Rp 2.925.000 per gram untuk ukuran standar. Sementara itu, emas batangan merek UBS dengan bobot yang sama juga berada di posisi yang sangat mendekati, yaitu Rp 2.974.000 per gram. Angka-angka ini mencerminkan kenaikan yang konsisten dalam beberapa waktu terakhir, menempatkan kedua jenis emas ini di ambang batas harga Rp 3 juta.
Harga emas batangan Antam, sebagai salah satu produsen emas terbesar di Indonesia, juga tidak jauh berbeda dan terus bergerak naik. Pada Sabtu, 24 Januari 2026, harga emas Antam tercatat berada di level Rp 2.887.000 per gram. Kenaikan harga ini telah menarik perhatian banyak investor, baik institusional maupun individu, yang secara aktif mencari perlindungan nilai di tengah ketidakpastian pasar finansial global. Minat investasi pada emas batangan terus menguat seiring dengan pergerakan harga.
Pendorong utama di balik proyeksi kenaikan harga emas ini adalah kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih sarat dengan ketidakpastian yang tinggi. Harga emas dunia, yang menjadi acuan utama bagi pasar domestik, telah mencapai puncaknya dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, harga emas di pasar spot global mencatat rekor US$ 4.987,7 per ons troy, menjadikannya posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Situasi geopolitik global, terutama yang berkaitan dengan konflik internasional, menjadi salah satu faktor penentu. “Penolakan negara-negara Eropa untuk bergabung dalam sejumlah inisiatif keamanan dan geopolitik Amerika Serikat, termasuk terkait Gaza, membuat ketidakpastian global tetap tinggi,” ujar Ibrahim Assuaibi, Head of Research and Education ICDX, Minggu (25/1/2026), seperti dilansir Kontan. Pernyataan ini menegaskan bahwa faktor eksternal memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan harga emas.
Ketidakpastian politik dan ekonomi global tersebut secara otomatis mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap paling aman, dan emas adalah pilihan utama. Emas secara historis selalu menjadi pilihan terdepan saat pasar finansial bergejolak atau saat nilai mata uang fiat mengalami devaluasi. Logam mulia ini berfungsi sebagai penyimpan nilai yang stabil dan dapat mempertahankan daya belinya. Fenomena ini menciptakan tekanan beli yang terus-menerus terhadap logam mulia, baik di tingkat internasional maupun domestik, karena investor mencari perlindungan aset dari risiko-risiko yang ada.
Di pasar domestik Indonesia, produk emas dari Antam dan Galeri24 menjadi pilihan favorit para investor. Ketersediaan yang luas, kemudahan akses melalui Pegadaian, serta kepercayaan konsumen terhadap merek-merek ini mendukung kenaikan harga. Perkembangan harga terbaru di Pegadaian menunjukkan bahwa target Rp 3 juta sudah di depan mata. “Emas jenis Galeri24 dan UBS juga sudah mulai mengetuk pintu wilayah harga Rp 3 juta per Minggu. Emas Galeri24 di Pegadaian dijual dengan harga Rp 2.925.000 per gram, sementara emas UBS di Pegadaian dijual seharga Rp 2.974.000 per gram,” demikian laporan yang dirilis oleh Radar Bojonegoro pada 25 Januari 2026. Data ini dengan jelas mengindikasikan bahwa harga sudah sangat dekat dengan target Rp 3 juta, dan pergerakan menuju angka tersebut semakin terasa nyata di tengah pasar yang dinamis.
Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter global juga turut berkontribusi besar terhadap penguatan harga emas. Kebijakan suku bunga yang cenderung akomodatif di beberapa negara dengan perekonomian besar, ditambah dengan kekhawatiran inflasi yang terus membayangi, menjadikan emas sebagai instrumen investasi yang sangat menarik. Ketika nilai mata uang fiat cenderung tergerus oleh laju inflasi, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai yang kuat semakin meningkat. Investor mencari aset yang dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilai kekayaan mereka di tengah tekanan inflasi.
Faktor pasokan dan permintaan juga memainkan peran krusial. Permintaan terhadap emas fisik, baik dalam bentuk batangan maupun perhiasan, terus meningkat di berbagai belahan dunia. Di sisi pasokan, meskipun ada produksi baru, tidak selalu mampu mengimbangi lonjakan permintaan. Keseimbangan antara pasokan dan permintaan ini, ditambah dengan minat investasi yang tinggi, semakin mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi. Pertumbuhan kelas menengah di berbagai negara berkembang juga turut meningkatkan daya beli masyarakat terhadap emas sebagai simbol kekayaan dan status.
Meskipun proyeksi harga emas terlihat sangat menjanjikan dan mencapai Rp 3 juta per gram, investor tetap perlu mempertimbangkan potensi fluktuasi yang mungkin terjadi. Harga emas sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global, rilis data ekonomi penting, dan keputusan kebijakan dari bank sentral. Namun, dengan tren global yang didominasi oleh ketidakpastian dan inflasi, banyak pihak meyakini bahwa target Rp 3 juta per gram bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Proyeksi ini memberikan harapan besar bagi para investor emas untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan dari investasi mereka di masa mendatang, asalkan mereka mampu mengambil keputusan investasi yang tepat.
Kuartal II tahun 2026 akan menjadi periode yang sangat menarik untuk pasar emas di Indonesia. Jika proyeksi kenaikan harga ini terwujud, maka akan menjadi babak baru yang penting bagi investasi emas di tanah air, menegaskan kembali perannya sebagai salah satu aset paling berharga dalam portofolio investasi. Investor diharapkan untuk terus memantau perkembangan pasar secara cermat, berkonsultasi dengan penasihat keuangan, dan mempertimbangkan strategi yang tepat untuk mengoptimalkan potensi keuntungan dari kenaikan harga emas ini. Kehati-hatian dalam berinvestasi tetap menjadi kunci di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
