Perak Bersinar Terang Proyeksi Tembus US$100 Per Troy Ons

4 Min Read

Pasar komoditas global kembali dihebohkan dengan laju impresif harga perak yang kini diproyeksikan dapat menyentuh level US$100 per troy ons. Kenaikan signifikan ini terjadi seiring dengan rekor tertinggi yang dicatatkan oleh harga emas dunia, memicu minat besar dari investor dan pengamat pasar. Kilau logam putih ini menjadi sorotan utama, menandakan era baru bagi perak sebagai instrumen investasi dan bahan baku industri strategis.

Memasuki akhir tahun 2025, perak telah menunjukkan kinerja luar biasa. Pada perdagangan Jumat, 26 Desember 2025, harga perak spot mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$74,385 per ons troi. Bahkan, dalam beberapa sesi, harga sempat menembus US$77 per ons troi. Pergerakan fantastis ini merefleksikan lonjakan harga sekitar 167% sepanjang tahun 2025, jauh melampaui kenaikan emas yang berada di kisaran 70% pada periode yang sama.

Salah satu pendorong utama di balik reli perak adalah lonjakan permintaan dari sektor industri. Perak memiliki peran krusial dalam berbagai aplikasi teknologi, terutama dalam pembuatan panel surya. Dengan semakin masifnya investasi global pada energi terbarukan dan target instalasi kapasitas surya yang ambisius hingga tahun 2030, permintaan perak diprediksi akan terus meningkat signifikan. Hal ini menciptakan tekanan positif pada harga di tengah pasokan yang cenderung ketat.

Selain itu, sentimen ekonomi global turut menjadi katalis kuat. Ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat, ditambah dengan ekspektasi pasar akan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), telah mendorong investor untuk beralih ke aset aman atau *safe haven*. Perak, sebagai salah satu logam mulia, mendapatkan keuntungan dari pergeseran investasi ini. Pelemahnya dolar AS juga menjadikan komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih menarik bagi pembeli internasional.

Ketegangan geopolitik global juga memainkan peranan penting dalam mendorong harga logam mulia. Insiden seperti serangan udara AS terhadap militan ISIS di barat laut Nigeria, yang disebutkan terjadi pada Kamis pekan sebelumnya, dapat meningkatkan kekhawatiran pasar dan memicu permintaan akan aset yang dianggap aman dari gejolak. Faktor-faktor makroekonomi dan geopolitik ini bersinergi menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi kenaikan harga perak.

Para analis pasar memprediksi tren kenaikan ini akan berlanjut. “Harga perak USD 77 per ounce dan kemudian USD 80 dapat dicapai pada akhir tahun,” demikian disampaikan sumber pasar yang dikutip CNBC dan dilansir Liputan6.com. Proyeksi ini menggarisbawahi kepercayaan kuat terhadap momentum perak yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, reli perak juga tidak bisa dilepaskan dari lonjakan harga emas yang telah lebih dulu mencapai rekor tertinggi baru di atas US$4.300 per troy ons pada akhir 2025, bahkan sempat menyentuh US$4.500 per ons. Emas dipandang sebagai lokomotif yang menarik perak untuk mengejar ketertinggalan rasionya. “Memasuki tahun 2026 saya prediksikan untuk harga emas dunia kemungkinan besar itu akan menuju level USD 5.500 per troy ons,” kata Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi, seperti dilansir Liputan6.com, memberikan gambaran prospek cerah bagi emas yang turut menopang perak.

Dengan proyeksi harga emas yang terus meningkat dan permintaan industri yang solid, perak kini berada di posisi yang sangat menguntungkan. Banyak pihak melihat perak sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau dibandingkan emas, namun dengan potensi keuntungan yang tidak kalah menarik. Ini menempatkan perak sebagai salah satu komoditas yang paling dinamis dan patut diperhitungkan di pasar global menuju tahun 2026 dan seterusnya.

Perjalanan perak menuju US$100 per troy ons mungkin bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan sebuah kemungkinan yang semakin realistis. Investor yang cerdas diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini, sembari tetap mencermati perkembangan ekonomi makro dan geopolitik global yang terus berubah. Kilau perak yang mempesona ini menunjukkan bahwa logam putih tersebut telah menjelma menjadi primadona baru di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Share This Article