Investasi Properti Bersama Sahabat: Kisah Sukses Airbnb di New York Penuh Tantangan

4 Min Read

Kerja sama investasi real estat semakin diminati, menawarkan jalan baru bagi individu untuk memasuki pasar properti yang kompetitif. Salah satu kisah yang menyoroti dinamika ini datang dari Selena Lounds (46) dan sahabatnya, Wade Jensen, yang berhasil membangun bisnis penyewaan Airbnb di Upstate New York. Keputusan mereka untuk membeli dan mengelola properti bersama ini, meskipun menguntungkan, juga membawa serta serangkaian tantangan yang harus dihadapi.

Pada tahun 2022, Lounds, yang saat itu merasa ragu untuk menanggung beban finansial kepemilikan rumah sendirian, menemukan kesamaan visi dengan Jensen yang juga mencari properti investasi. Keduanya kemudian memutuskan untuk menggabungkan kekuatan. Mereka membentuk Perseroan Terbatas (LLC) dan membeli sebuah rumah berukuran 2.100 kaki persegi di Upstate New York seharga $565.000, membagi biaya secara merata. Properti tiga kamar tidur dan tiga kamar mandi ini kemudian diubah menjadi akomodasi Airbnb, yang mulai beroperasi dan menghasilkan pendapatan signifikan sejak Mei 2023.

Model bisnis yang mereka terapkan sangat berfokus pada reinvestasi dan pertumbuhan jangka panjang. “Apa pun yang kami hasilkan, kami masukkan kembali ke dalam rumah,” kata Lounds seperti dilansir Business Insider. Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk terus meningkatkan nilai properti dan fasilitasnya, menjadikannya pilihan menarik bagi para penyewa. Hingga saat ini, properti tersebut telah menampung lebih dari 30 tamu, dengan tarif dasar sekitar $300 per malam, yang berfluktuasi sesuai permintaan. Pada tahun 2025 saja, properti ini telah menghasilkan sekitar $29.023 dalam pendapatan, belum termasuk pemesanan Natal dan Malam Tahun Baru yang akan menambah $3.168.

Keuntungan utama dari co-investasi ini terletak pada pembagian biaya dan tanggung jawab. Lounds dan Jensen secara adil membagi biaya renovasi, tugas pengelolaan properti, dan tentu saja, pendapatan yang diperoleh dari Airbnb. Hal ini meringankan beban finansial dan operasional yang biasanya ditanggung oleh satu pemilik, memungkinkan mereka untuk mengoptimalkan waktu dan sumber daya masing-masing. “Kami melihat rumah ini sebagai investasi jangka panjang, terutama karena nilainya akan terus meningkat,” tambah Lounds seperti dikutip DNYUZ, menekankan motivasi ekonomi di balik kemitraan mereka.

Meskipun banyak keuntungan, co-investasi juga tidak luput dari tantangan. Keputusan besar, seperti renovasi atau pemilihan dekorasi, seringkali membutuhkan diskusi ekstensif dan kompromi. Perbedaan pendapat, terutama dalam hal estetika, menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kepemilikan bersama. Lounds mengakui bahwa tidak selalu mudah untuk mencapai kesepakatan, namun komunikasi yang terbuka dan penghargaan terhadap pandangan masing-masing menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan kemitraan mereka.

Kisah Lounds dan Jensen mencerminkan tren yang berkembang di mana individu mencari cara inovatif untuk berinvestasi di pasar real estat. Dengan menggabungkan sumber daya dan keahlian, mereka tidak hanya mewujudkan impian kepemilikan rumah tetapi juga membangun sumber pendapatan yang berkelanjutan. Namun, kesuksesan model ini sangat bergantung pada fondasi persahabatan yang kuat dan komitmen bersama untuk mengatasi segala perbedaan yang muncul. Kemampuan untuk mengelola ekspektasi, menetapkan peran yang jelas, dan berkomunikasi secara efektif adalah pilar utama yang mendukung kemitraan investasi properti semacam ini.

Properti di Upstate New York tersebut, yang dibeli seharga $565.000 pada tahun 2022, menjadi bukti nyata bahwa dengan perencanaan yang matang dan kemitraan yang solid, investasi properti bersama dapat menjadi strategi yang menguntungkan. Namun, calon co-investor disarankan untuk mempertimbangkan dengan cermat semua aspek hukum dan pribadi sebelum memulai perjalanan serupa, memastikan bahwa mereka siap menghadapi pro dan kontra yang tak terhindarkan dalam usaha bersama ini. Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa pasar sewa jangka pendek, seperti Airbnb, memang berkontribusi pada peningkatan harga sewa jangka panjang karena perubahan pasokan dan permintaan perumahan, seperti dilansir Wikipedia, menyoroti dampak yang lebih luas dari model bisnis ini pada ekosistem perumahan.

Share This Article