MSCI (Morgan Stanley Capital International) bersiap menerapkan perubahan signifikan pada metodologi perhitungan *free float* saham Indonesia, sebuah langkah yang diproyeksikan akan membawa dampak besar pada rebalancing indeks Februari 2026. Pembaruan ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi kepemilikan publik saham dan akan mempengaruhi daftar saham yang masuk atau keluar dari indeks MSCI, yang menjadi acuan penting bagi investor global.
Perubahan utama yang sedang ditinjau adalah penggunaan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menghitung *free float*. Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya menerima laporan kepemilikan di atas 5%, sementara data KSEI mencakup juga pemegang saham di bawah 5%. Ini akan memberikan gambaran yang lebih detail dan akurat mengenai struktur kepemilikan publik, sekaligus berpotensi memperketat definisi *free float* yang digunakan oleh MSCI.
Proses konsultasi publik terkait perubahan ini telah ditutup pada 31 Desember 2025. Hasil konsultasi diharapkan akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Selanjutnya, pengumuman resmi mengenai penambahan dan penghapusan saham untuk tinjauan indeks Februari 2026 dijadwalkan pada 10 Februari 2026, dengan tanggal efektif perubahan indeks pada penutupan pasar 2 Maret 2026. Namun, implementasi penuh dari metodologi *free float* yang baru ini direncanakan akan berlaku saat rebalancing Mei 2026.
Analis pasar telah mengidentifikasi beberapa saham yang berpotensi besar untuk masuk ke indeks MSCI Global Standard pada peninjauan Februari 2026, mengingat penyesuaian *free float* dan kinerja likuiditasnya. Emiten-emiten ini telah menjadi sorotan para investor yang mengamati pergerakan pasar global.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu kandidat terkuat yang diproyeksikan akan masuk ke MSCI Standard Cap Index. Equity Research Analyst Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, dalam riset mereka menyebutkan, “BUMI memiliki peluang terbesar untuk masuk ke MSCI Standard Cap Index pada peninjauan indeks Februari 2026. PTRO memiliki peluang terbesar kedua untuk masuk ke MSCI Standard Cap Index. Sama seperti BUMI, PTRO juga merupakan anggota MSCI Small Cap Indonesia Index,” seperti dilansir Kontan. Mereka menambahkan bahwa MSCI juga telah memperbarui *free float* PTRO menjadi 30% dari sebelumnya 25%, menurunkan batas harga minimum menjadi Rp 11.000–Rp 12.000 per saham.
Selain BUMI dan PTRO, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) juga menunjukkan potensi kuat. Setelah melakukan *Rights Issue* dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk mendapatkan dana sebesar Rp 15,7 triliun, *free float* saham PANI meningkat signifikan dari 12,2% menjadi 15,91%. Peningkatan ini membuka peluang PANI untuk masuk ke indeks MSCI dan menarik minat investor internasional, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Beberapa saham lain yang juga berada dalam radar analis sebagai kandidat kuat atau sedang dipantau untuk inklusi dalam rebalancing mendatang meliputi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Selain itu, saham seperti PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT RMK Energy Tbk (RMKE), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mulai mendekati ambang batas (threshold) yang ditentukan oleh MSCI, menjadikannya menarik untuk diamati lebih lanjut.
Dampak dari perubahan metodologi ini diperkirakan dapat memicu aliran dana keluar (outflow) dari saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi atau *free float* riil yang rendah menurut standar baru MSCI. Hal ini sekaligus menjadi dorongan bagi emiten untuk menata ulang struktur kepemilikan guna memperbesar porsi *free float* dan meningkatkan likuiditas saham mereka. Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri telah aktif berkoordinasi dengan pihak terkait. “Kami harapkan pada 2026, bersama OJK, kebijakan *free float* ini bisa diluncurkan. Bursa juga sedang menyiapkan penyesuaian regulasi, termasuk pada Peraturan 1A,” ungkap Iman, perwakilan BEI, saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025) seperti dilansir Liputan6.com, menunjukkan komitmen bursa dalam mendukung penyesuaian ini.
Perubahan ini menunjukkan upaya MSCI untuk memastikan bahwa indeks mereka merefleksikan likuiditas pasar yang sebenarnya, mendorong transparansi, dan berpotensi mengurangi praktik-praktik yang dapat memicu manipulasi harga saham. Bagi investor, pemahaman akan perubahan ini krusial untuk menyusun strategi investasi yang adaptif dan memaksimalkan potensi keuntungan di pasar modal Indonesia.
