Neraca Dagang RI Melonjak Surplus USD 41,05 Miliar pada 2025

5 Min Read

Indonesia kembali menunjukkan performa gemilang dalam neraca perdagangannya. Sepanjang tahun 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus kumulatif yang mencapai angka fantastis USD 41,05 miliar. Pencapaian ini diumumkan pada Senin, 2 Februari 2026, di Jakarta, dan menegaskan posisi kuat ekonomi domestik di tengah dinamika global. Angka surplus yang signifikan ini tidak hanya melampaui capaian tahun sebelumnya, tetapi juga menandai periode surplus selama 68 bulan berturut-turut, sebuah rekor yang menunjukkan ketahanan dan stabilitas perekonomian negara.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam rilis resminya, menyoroti peningkatan substansial tersebut. “Kita lihat perbandingan cukup tinggi kondisi Januari-Desember dibandingkan Januari-Desember 2024,” kata Ateng Hartono, seperti dilansir CNBC Indonesia. Ia menjelaskan bahwa surplus tahun 2025 jauh lebih besar dibandingkan dengan surplus sebesar USD 31,04 miliar yang tercatat pada tahun 2024. Peningkatan ini menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi Indonesia.

Lebih lanjut, Ateng Hartono menjelaskan bahwa surplus neraca perdagangan 2025 didominasi oleh kinerja sektor nonmigas yang sangat baik. Sektor ini berhasil mencatatkan surplus sebesar USD 60,75 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan di sektor migas masih mengalami defisit, tercatat sebesar USD 19,70 miliar. Namun, kekuatan sektor nonmigas mampu mengompensasi defisit di sektor migas, sehingga secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia tetap positif dan solid.

Data BPS menunjukkan bahwa nilai ekspor kumulatif Indonesia dari Januari hingga Desember 2025 mencapai USD 282,21 miliar. Angka ini secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan impor kumulatif yang tercatat sebesar USD 241,86 miliar pada periode yang sama. Selisih inilah yang membentuk angka surplus yang dibanggakan tersebut. Kenaikan ekspor menjadi pendorong utama surplus, menunjukkan peningkatan daya saing produk-produk Indonesia di pasar global.

Berbagai komoditas nonmigas memberikan kontribusi besar terhadap surplus ini. Peningkatan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh performa cemerlang pada komoditas lemak dan minyak hewan nabati. Selain itu, ekspor nikel dan produk turunannya, serta mesin dan perlengkapan elektronik beserta bagian-bagiannya, juga turut menyumbang peningkatan signifikan. Komoditas-komoditas ini menunjukkan diversifikasi ekspor Indonesia yang semakin kuat dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis produk.

Tren positif ini juga terlihat pada kinerja bulanan. Khusus untuk bulan Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia berhasil membukukan surplus sebesar USD 2,51 miliar. Pencapaian bulanan ini semakin memperpanjang rekor surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Konsistensi surplus selama periode yang panjang ini merupakan bukti nyata dari kebijakan perdagangan yang efektif dan fundamental ekonomi yang kokoh.

“Surplus sepanjang Januari-Desember 2025 tersebut terutama ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD 60,75 miliar,” tambah Ateng Hartono, dalam keterangannya yang dirilis Liputan6. Pernyataan ini menegaskan kembali peran krusial sektor nonmigas sebagai tulang punggung kinerja perdagangan Indonesia. Keberhasilan dalam meningkatkan ekspor produk-produk bernilai tambah dari sektor ini menjadi kunci utama keberlanjutan surplus.

Menurut data BPS, jika dilihat berdasarkan negara dan kawasan tujuan utama ekspor, nilai ekspor nonmigas ke China tercatat sebesar USD 64,82 miliar, meningkat 7,11 persen dibandingkan periode Januari-Desember 2024. Peningkatan serupa juga terjadi pada ekspor nonmigas ke Amerika Serikat, ASEAN, dan Uni Eropa, menunjukkan perluasan jangkauan pasar produk-produk Indonesia.

Dampak dari surplus neraca perdagangan ini sangat signifikan bagi perekonomian nasional. Surplus yang berkelanjutan dapat memperkuat cadangan devisa negara, menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kondisi ini juga memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah untuk mendukung program-program pembangunan dan stimulus ekonomi, khususnya di tengah tantangan ekonomi global yang masih bergejolak.

Dengan kinerja neraca perdagangan yang solid ini, Indonesia optimis dapat terus mempertahankan momentum positif di tahun-tahun mendatang. Pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat terus mendorong diversifikasi ekspor, peningkatan nilai tambah produk, dan perluasan pasar tujuan. Strategi ini krusial untuk memastikan keberlanjutan surplus dan memperkuat fondasi ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Share This Article