BMKG Tetapkan Siaga Cuaca Ekstrem Hujan Lebat di Berbagai Wilayah Indonesia

5 Min Read

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat yang berpotensi melanda berbagai wilayah di Indonesia pada periode 20-21 Januari 2026. Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi satu-satunya provinsi yang ditetapkan dalam status “AWAS”, mengindikasikan potensi hujan ekstrem. Peringatan ini disampaikan sebagai respons terhadap kondisi atmosfer yang dinamis dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

Beberapa wilayah lain juga berada dalam status “SIAGA” terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Daerah-daerah tersebut meliputi Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan. Masyarakat di wilayah-wilayah ini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan diri menghadapi dampak yang mungkin timbul.

Selain potensi hujan lebat, BMKG juga memperingatkan adanya angin kencang di beberapa daerah seperti Bali, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan juga di wilayah Manado dan Talaud. Kondisi ini berpotensi menyebabkan pohon tumbang serta gangguan pada infrastruktur.

Fenomena gelombang tinggi juga menjadi perhatian serius. BMKG memprakirakan gelombang laut di perairan Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara dapat mencapai ketinggian 2,5 hingga 4 meter. Para nelayan dan aktivitas maritim lainnya diminta untuk sangat berhati-hati dan mempertimbangkan untuk menunda pelayaran jika kondisi tidak memungkinkan demi keselamatan.

Kondisi cuaca ekstrem ini disebabkan oleh beberapa faktor atmosfer yang saling terkait. Memasuki periode puncak musim hujan, penguatan Monsun Asia menjadi salah satu pemicu utama peningkatan curah hujan. Selain itu, aktivitas Siklon Tropis Nokaen yang berada di Laut Filipina, serta kemunculan bibit Siklon Tropis 96S di Samudra Hindia selatan Jawa Timur dan bibit Siklon 97S di pesisir utara Australia turut memperkuat area konvergensi atau pertemuan angin di wilayah selatan Indonesia.

“Kondisi ini dipicu oleh periode puncak musim hujan yang diperparah dengan fenomena La Niña lemah, penguatan Monsun Asia, serta adanya bibit siklon tropis yang memperkuat area konvergensi di wilayah selatan Indonesia,” jelas BMKG dalam laporan peringatan dini cuaca, seperti dikutip dari Kompas TV. Penjelasan ini menggarisbawahi kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi cuaca ekstrem saat ini.

Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air menjadi risiko utama akibat intensitas hujan yang tinggi. Terlebih lagi, adanya fenomena bulan baru pada tanggal 19 Januari 2026 meningkatkan risiko terjadinya banjir pesisir atau rob di sepanjang wilayah pesisir Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan, NTT, dan NTB. Potensi dampak ini bisa mengganggu aktivitas harian masyarakat dan jalur transportasi.

Dalam menghadapi situasi ini, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, pada kesempatan terpisah menginformasikan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang operasi modifikasi cuaca di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat hingga 24 Januari 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi dini untuk mengurangi potensi risiko banjir di kedua wilayah padat penduduk tersebut.

“BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah rawan bencana, agar meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat juga disarankan menghindari aktivitas luar ruang saat hujan lebat dan memastikan lingkungan sekitar dalam kondisi aman,” kata seorang perwakilan BMKG, seperti dilansir dari keterangan resmi BMKG. Imbauan ini penting untuk diperhatikan demi keselamatan individu dan keluarga.

Pemerintah daerah di seluruh wilayah yang terdampak juga diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah-langkah preventif seperti pembersihan drainase, pemantauan wilayah rawan banjir dan longsor secara berkala, serta kesiapan posko darurat harus dioptimalkan. Koordinasi antarlembaga terkait dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana ini. Kesiapsiagaan kolektif diharapkan dapat meminimalkan dampak buruk dari cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi.

Secara rinci, beberapa daerah lain yang juga masuk dalam kategori waspada hujan sedang hingga lebat untuk periode yang lebih luas (18-20 Januari 2026) mencakup Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua. Masyarakat di lokasi ini perlu mengantisipasi perubahan cuaca mendadak dan tetap memantau informasi terkini dari BMKG.

BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika atmosfer dan mengeluarkan pembaruan informasi jika terjadi perubahan signifikan. Masyarakat dapat mengakses informasi cuaca terbaru melalui situs resmi BMKG atau aplikasi mobile untuk mendapatkan data yang akurat dan terpercaya. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan media diharapkan dapat menyebarluaskan informasi penting ini sehingga dampak bencana dapat diminimalisir.

Kewaspadaan dini dan tindakan pencegahan adalah kunci untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem. Dengan demikian, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat melewati periode ini dengan aman dan minim kerugian. Fokus pada keselamatan dan kesiapsiagaan menjadi prioritas utama.

Share This Article