ap – Sebuah panggilan telepon dari Istana di tengah hari Senin mengubah segalanya bagi Purbaya Yudhi Sadewa. Kabar mengejutkan itu datang tak terduga. Ia diminta segera merapat ke Istana Kepresidenan.
Panggilan tersebut membawa amanah berat. Purbaya Yudhi Sadewa akan dilantik sebagai Menteri Keuangan. Namun, respons awalnya justru jauh dari euforia. Ia dilanda keraguan yang mendalam.
Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu sempat mengira ia sedang menjadi korban penipuan. Nada suara dan permintaan yang mendadak terasa janggal. Apalagi, tak ada angin tak ada hujan sebelumnya.
“Saya pikir saya ditipu,” ungkap Purbaya, berbagi momen krusial itu. Keraguan membayangi benaknya. Ia harus memastikan keaslian panggilan tersebut sebelum melangkah lebih jauh.
Purbaya segera memeriksa nomor telepon yang menghubunginya. Ia melakukan verifikasi cepat. Barulah setelah yakin panggilan itu asli, ia bergegas menuju Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta Pusat.
Momen penting itu terjadi pada Senin siang, 8 September 2025. Tanggal tersebut akan tercatat sebagai hari bersejarah. Ia kini resmi mengemban amanah sebagai Menteri Keuangan, sebuah posisi yang sangat strategis dalam kabinet.
Kepada awak media, Purbaya menjelaskan keterkejutannya yang luar biasa. “Ini juga kan kaget, ini kan kagetan juga,” ujarnya lugas, menggambarkan suasana hatinya yang campur aduk. Proses penunjukan ini berlangsung begitu cepat dan mendadak, meninggalkan kesan mendalam.
Informasi mengenai pelantikan itu baru diterimanya sekitar pukul setengah satu siang. Waktu yang sangat singkat untuk mencerna perubahan besar ini. Semuanya terasa serba instan, tanpa persiapan berarti.
Purbaya Yudhi Sadewa kini resmi menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Ia akan memimpin Kementerian Keuangan, salah satu pos paling strategis dalam pemerintahan. Amanah besar kini ada di pundaknya.
Ia juga mengakui belum sempat berkomunikasi dengan Menkeu sebelumnya, Sri Mulyani. Waktu yang sangat terbatas membuatnya belum sempat melakukan serah terima informal yang seharusnya. Kesibukan melanda.
“Belum, belum. Habis ini saya mau ke Kemenkeu melihat di sana seperti apa,” kata Purbaya. Prioritasnya adalah segera memahami situasi di kementerian barunya. Adaptasi cepat sangat dibutuhkan.
Raut wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa keterkejutan yang nyata. “Ini juga kan masih kaget,” tambahnya. Proses yang instan ini tentu membutuhkan waktu untuk dicerna sepenuhnya, baik secara pribadi maupun profesional.
Meskipun mendadak, penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa ini tentu bukan tanpa latar belakang. Ia memiliki rekam jejak interaksi dengan Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Hal ini menjadi kunci penting dalam proses seleksi mendadak ini.
Purbaya menegaskan pernah melakukan presentasi di hadapan Prabowo langsung. Momen itu terjadi saat acara Sarasehan Ekonomi beberapa waktu lalu. Pertemuan tersebut mungkin meninggalkan kesan positif terhadap kemampuannya.
Di kesempatan itu, ia merasa kemampuannya mungkin terlihat menonjol. “Kan waktu Sarasehan Ekonomi saya presentasi di sana, mungkin kelihatan saya cukup jago, kelihatannya,” kata Purbaya. Sebuah pernyataan yang mengindikasikan rasa percaya diri.
Selain Sarasehan Ekonomi, Purbaya juga sudah beberapa kali melakukan diskusi ekonomi mendalam. Interaksi-interaksi ini menunjukkan kedalamannya dalam isu-isu fiskal dan moneter. Keahliannya diakui.
Namun, ia menekankan diskusi tersebut tidak baru-baru ini terjadi. “Tetapi enggak baru-baru ini sekali,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa penunjukan ini datang dari pengamatan dan penilaian yang bersifat jangka panjang.
Sebelum menjadi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Posisi ini memberinya pengalaman mendalam dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Sebuah fondasi yang kuat.
Sebagai pimpinan LPS, ia bertanggung jawab melindungi simpanan nasabah bank. Peran ini sangat krusial dalam membangun kepercayaan publik terhadap sektor perbankan. Stabilitas ekonomi sangat bergantung padanya.
Pengalamannya di LPS tentu menjadi modal berharga. Ia terbiasa dengan dinamika ekonomi, kebijakan makro, dan tantangan yang menyertai stabilitas finansial sebuah negara. Keahliannya tak diragukan.
Transisi dari Ketua LPS ke Menteri Keuangan adalah lompatan besar dalam karier profesionalnya. Tanggung jawabnya kini meluas, meliputi seluruh aspek pengelolaan fiskal negara. Ini adalah tantangan yang tidak ringan, namun menarik.
Masyarakat dan pasar keuangan akan menanti gebrakan Purbaya Yudhi Sadewa. Kebijakan-kebijakan fiskal yang akan diambilnya akan sangat menentukan arah perekonomian Indonesia ke depan. Tekanan besar menanti di depan mata.
Langkah pertamanya adalah melakukan konsolidasi internal. Memahami struktur, staf, dan program-program yang sedang berjalan di Kementerian Keuangan akan menjadi prioritas utama. Penyesuaian cepat sangat dibutuhkan.
Purbaya Yudhi Sadewa kini menghadapi babak baru dalam hidupnya. Dari kejutan telepon yang dianggap penipuan, ia kini memegang kendali atas keuangan negara. Sebuah perjalanan karier yang luar biasa dan penuh dinamika.
Amanah ini datang dengan harapan besar dari seluruh elemen bangsa. Ia diharapkan mampu melanjutkan kinerja positif kementerian. Serta membawa inovasi dan solusi untuk tantangan ekonomi global dan domestik yang kompleks.
Sorotan media kini akan terus mengarah padanya setiap saat. Setiap kebijakan dan pernyataan yang dikeluarkannya akan dianalisis secara cermat oleh publik dan para pengamat ekonomi. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari perannya.
Kemampuan beradaptasi dengan cepat adalah kunci utama keberhasilannya di posisi baru ini. Ia harus segera menyesuaikan diri dengan ritme kerja dan tekanan di Kementerian Keuangan. Sebuah instansi vital bagi keberlanjutan negara.
Kisah Purbaya Yudhi Sadewa adalah pengingat bahwa kejutan bisa datang kapan saja dalam hidup. Dari keraguan awal yang sempat muncul, ia kini siap mengemban tugas mulia. Masa depan keuangan negara ada di tangannya.
