Reza Rahadian Debut Sutradara Lewat Film “Pangku”, Usung Pesan Ibu tentang Hidup

6 Min Read

ap – Aktor ternama Reza Rahadian kini melangkah ke ranah baru. Ia menjajal peruntungan sebagai sutradara. Film panjang berjudul “Pangku” menjadi karya debut penyutradaraannya.

Langkah besar ini diambil Reza bukan tanpa alasan. Ia mengaku didorong oleh kebutuhan mendalam. Kebutuhan untuk terus bergerak dan bertumbuh dalam perjalanan kariernya yang gemilang.

“Medium penyutradaraan adalah medium saya yang baru,” kata Reza. Pernyataan itu dikutip pada Rabu (10/9) lalu. Ini adalah debut film cerita panjang pertamanya.

Reza menambahkan, “Jadi saya punya ruang baru untuk bertumbuh dan berkembang ke depannya, terus bergerak.” Ini adalah ekspresi keinginan kuatnya.

Meski telah lama bergelut di dunia akting, Reza menemukan hal baru. Ia mengakui, berakting dan menyutradarai memiliki kenikmatan sendiri. Keduanya menawarkan pengalaman unik.

Namun, ia menekankan fokusnya saat ini. Peran sutradara memberikannya peluang. Sebuah ruang luas untuk terus tumbuh dan berkembang. Lebih dari sekadar di depan layar.

Baginya, standar utama dalam berkarya sangat jelas. “Standar saya adalah apakah saya bisa menyampaikan sebuah cerita dengan jujur,” tuturnya. Ini adalah inti dari setiap proyeknya.

Ia melanjutkan, “Dengan sebaik-baiknya itu menjadi standar.” Kejujuran dan kualitas adalah dua pilar penting baginya dalam bercerita.

Melalui film “Pangku”, Reza mewujudkan sebuah adegan impian. Adegan ini sarat makna. Ia membawa nilai pelajaran hidup berharga dari sang ibu.

Menurut Reza, ibunya mengajarkan nilai fundamental. Bahwa kesulitan dan tantangan hidup tidak seharusnya diromantisasi. Atau dijadikan alasan untuk mengasihani diri sendiri.

Sebaliknya, Reza menjelaskan. Tantangan adalah sebuah momentum penting. Momentum untuk melangkah lebih baik lagi, lebih tepat. Tanpa larut dalam kesedihan.

“Jadi enggak ada proses untuk mengasihani diri,” tegasnya. Ia juga menambahkan, “Dan tidak mendramatisasi duka dalam kehidupan gitu.” Ini adalah pandangan hidup yang kuat.

Reza justru mengajak untuk merayakan kehidupan. “Tapi terus merayakan kehidupan dengan segala hirup-pikuknya,” ujarnya. Sebuah ajakan untuk optimisme.

Nilai pelajaran hidup tersebut digambarkan Reza. Ia menyajikannya dalam adegan sederhana di film “Pangku”. Adegan itu terasa begitu dekat dengan realitas.

Contohnya, ia menggambarkan seorang ibu. Bersama anaknya yang sedang tiduran. Keduanya mengobrol santai penuh kehangatan.

“Itu bonding antara orangtua dengan anak,” ungkap Reza. Adegan ini bukan tentang meratapi nasib. Melainkan tentang penerimaan.

Lebih kepada sebuah pemahaman. “Oh yaudah, ini hidup kita lagi begini, kita jalani aja,” katanya. Sebuah filosofi hidup yang sederhana namun mendalam.

Reza mengaku menemukan nilai hidup ini juga. Ia menemukannya saat melakukan riset di lapangan. Kondisi masyarakat yang jauh dari keberuntungan.

Namun, mereka memiliki kekuatan luar biasa. Kekuatan itu justru menjadi sumber inspirasi baginya. Sebuah pencerahan yang tak terduga.

“Sementara mereka juga yang memberikan dukungan gitu, kebalik,” ujarnya. Mereka adalah sosok-sosok yang menginspirasi.

“Mereka yang memberikan inspirasi, memang berat tapi bukan untuk dikasihani,” lanjut Reza. Sebuah pelajaran berharga tentang resiliensi.

Ia mengingat sebuah jawaban. “Hidup harus dijalani aja mas.” Jawaban itu sangat membekas di hatinya. “Kok bisa ya mereka jawab sekuat itu,” ungkap Reza.

Film cerita panjang “Pangku” diproduksi. Oleh Gambar Gerak, sebuah rumah produksi. Didirikan oleh Reza Rahardian dan Arya Ibrahim.

Karya ini mengangkat kisah menyentuh. Tentang perjuangan bertahan hidup seorang perempuan. Khususnya perjuangan seorang ibu.

Pusat cerita ada pada Sartika (Claresta Taufan). Seorang perempuan muda yang sedang hamil. Ia berjuang mencari masa depan lebih baik untuk anaknya.

Dalam perjalanannya, ia bertemu Maya (Christine Hakim). Pemilik kedai kopi di Pantura. Maya merawat dan membantunya melalui proses persalinan.

Namun, takdir berkata lain. Kondisi hidup justru membawa Sartika. Ia menjadi pelayan kopi pangku. Tanpa memiliki banyak pilihan di tengah keterbatasan.

Film ini dibintangi oleh jajaran aktor berbakat. Claresta Taufan dan Christine Hakim menjadi pemeran utama. Keduanya dikenal dengan akting kuat.

Ada juga Fedi Nuril dan Devano Danendra. Serta Shakeel Fauzi dan Putri Risa Juan. Mereka semua menambah kekuatan akting film ini.

Pemain lain yang turut bergabung. Dea Chandika, Nazira C. Noer, dan Galabby. Serta T. J. Ruth, Lukman Sardi, dan Djenar Maesa Ayu. Sebuah ensemble cast yang solid.

“Pangku” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia. Mulai tanggal 6 November 2025. Para penikmat film akan menantikan karya ini.

Sebelum tayang, film “Pangku” telah melalui berbagai tahap. Termasuk pengembangan yang panjang. Dan telah mengantongi banyak penghargaan.

Prestasi ini dimulai dari White Light Post-Production Award. Diraih di ajang JAFF Future Project (JFP) 2024. Ini menjadi awal pengakuan yang manis.

Kemudian, “Pangku” juga lolos seleksi bergengsi. Untuk dipresentasikan dalam Hong Kong – Asia Film Financing Forum ke-23 (HAF23). Sebuah forum penting di Asia.

Tidak berhenti di situ, film ini juga terpilih. Menjadi salah satu dari lima proyek film. Yang memenangkan HAF Goes to Cannes Program.

Kemenangan itu membawa “Pangku” ke panggung internasional. Melanjutkan perjalanan untuk dipresentasikan. Di Cannes Film Festival 2025 yang prestisius.

Film ini juga terpilih. Untuk mengikuti Far East in Progress, Focus Asia 2025. Di Far East Film Festival 2025. Mengukuhkan posisinya di kancah global.

Pangku pun mendapatkan bantuan pendanaan. Yaitu Red Sea Fund for Post-Production. Dana ini berasal dari Red Sea Film Foundation. Sebuah dukungan penting bagi produksi film. (Ant/Z-1)

Share This Article