Jatim Gencarkan Modifikasi Cuaca Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem Akhir Tahun

4 Min Read

Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) secara masif menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah. Langkah proaktif ini diambil untuk meminimalisasi potensi cuaca ekstrem serta dampak bencana hidrometeorologi menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Inisiatif strategis ini merupakan respons cepat terhadap peringatan dini yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi peningkatan intensitas curah hujan disertai angin kencang di berbagai daerah di Jatim hingga akhir tahun.

Operasi ini secara resmi telah dimulai sejak tanggal 5 Desember 2025 dan direncanakan akan berlangsung berkelanjutan hingga penghujung tahun 2025. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara langsung memerintahkan pelaksanaan OMC sebagai upaya mitigasi dini. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi Jatim berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, BMKG, dan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda, menunjukkan sinergi antarlembaga dalam menghadapi ancaman bencana alam.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan modifikasi cuaca ini adalah untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkan oleh cuaca ekstrem. “Kegiatan ini tujuannya untuk mengurangi potensi terjadinya bencana hidrometeorologi yang diakibatkan cuaca ekstrem, seperti, banjir, banjir bandang, longsor dan angin puting beliung,” kata Gatot Soebroto, seperti dilansir Ngopibareng.id. Pernyataan ini menegaskan fokus pemerintah daerah dalam melindungi masyarakat dari berbagai ancaman bencana yang seringkali menyertai musim penghujan.

OMC difokuskan pada upaya pengendalian curah hujan dengan memecah awan-awan potensial sebelum mencapai daratan atau mengalihkannya ke wilayah perairan yang lebih aman. Teknik ini memungkinkan pengurangan volume air hujan yang jatuh di daerah padat penduduk atau rawan bencana. Hingga awal pekan ini, beberapa titik yang telah menjadi sasaran OMC meliputi wilayah utara Surabaya, utara Kabupaten Banyuwangi, serta Situbondo. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada hasil analisis BMKG yang menunjukkan potensi ancaman cuaca ekstrem di area tersebut.

“Jadi, mulai saat ini, jika BMKG mendeteksi adanya awan di langit Jawa Timur yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem, maka kita akan lakukan OMC, untuk menghindari bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut,” tandas Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, seperti dikutip dari Detik.com. Hal ini mengindikasikan pendekatan reaktif dan adaptif dalam pelaksanaan operasi, di mana modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan kondisi awan yang terpantau secara real-time.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jatim juga telah menggelar OMC pada periode 26-30 November 2025. Operasi sebelumnya menggunakan pesawat Cessna Caravan C208 REG PK-SNM yang beroperasi dari Baseops Lanudal Juanda. Puspenerbal Juanda menjadi pusat operasional bagi seluruh rangkaian kegiatan OMC, menyediakan dukungan logistik dan fasilitas yang diperlukan untuk keberhasilan operasi ini. Modifikasi cuaca ini diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih aman bagi masyarakat, terutama selama periode mobilitas tinggi menjelang dan saat perayaan Nataru.

Keputusan untuk melanjutkan dan mengintensifkan OMC hingga akhir tahun 2025 didasari oleh proyeksi BMKG yang menyatakan bahwa puncak musim hujan di Jawa Timur masih akan berlanjut dan potensi cuaca ekstrem akan tetap tinggi. Selain mengurangi risiko bencana di daerah rawan, OMC juga diharapkan dapat membantu situasi di daerah yang telah terdampak bencana sebelumnya, seperti Kabupaten Lumajang yang baru-baru ini menghadapi erupsi Gunung Semeru, di mana cuaca ekstrem dapat memperburuk kondisi.

Dengan adanya operasi modifikasi cuaca ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap dapat meminimalisasi kerugian materiil maupun korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti informasi serta arahan dari pihak berwenang terkait perkembangan cuaca. Koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, BMKG, dan instansi terkait lainnya menjadi kunci dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan seluruh warga Jawa Timur menghadapi tantangan cuaca ekstrem di penghujung tahun.

Share This Article