Fenomena bahasa gaul terbaru bernama “six-seven” kini tengah ramai diperbincangkan di kalangan remaja dan Generasi Alpha, menciptakan kebingungan di kalangan orang tua serta memicu keresahan di lingkungan sekolah. Istilah yang viral di platform media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels sejak awal tahun 2025 ini, sebenarnya tidak memiliki makna harfiah dan lebih dikenal karena absurditasnya.
“Six-seven” pertama kali muncul sebagai sensasi daring, berkembang dari lagu rap “Doot Doot (6 7)” oleh rapper Philadelphia, Skrilla, yang rilis pada tahun 2024. Frasa ini kemudian meroket popularitasnya melalui berbagai video editan di TikTok, khususnya yang menampilkan pemain bola basket profesional LaMelo Ball, yang kebetulan memiliki tinggi badan 6 kaki 7 inci. Seiring waktu, istilah ini tidak hanya menjadi populer di dunia maya tetapi juga merambah ke percakapan sehari-hari anak-anak sekolah di Amerika Serikat dan Inggris.
Inti dari daya tarik “six-seven” terletak pada sifatnya yang nonsens. Anak-anak dan remaja sering meneriakkan frasa ini secara spontan, kadang disertai dengan gerakan tangan ‘menyeimbangkan’ atau ‘menimbang’ ke atas dan ke bawah. Meskipun beberapa interpretasi menyatakan bahwa “six-seven” bisa berarti “biasa saja” atau “canggung” ketika diiringi gestur tangan tersebut, bagi sebagian besar penggunanya, istilah ini adalah bentuk humor “brainrot” internet—lelucon yang disukai karena tidak masuk akal.
Keresahan utama muncul di lingkungan pendidikan. Guru-guru melaporkan bahwa “six-seven” telah menjadi gangguan serius di kelas, dengan siswa yang tanpa henti meneriakkan frasa tersebut, terutama ketika angka enam atau tujuh disebutkan. Kondisi ini memaksa banyak sekolah untuk mengambil tindakan tegas, termasuk melarang penggunaannya di dalam kelas.
Adria Laplander, seorang guru bahasa Inggris kelas enam di Michigan, mengungkapkan frustrasinya. “Saya telah mengajar selama 20 tahun dan saya telah berurusan dengan segala macam bahasa gaul — tidak ada yang membuat saya lebih gila daripada yang satu ini,” katanya, seperti dilansir Today.com. Pengalaman serupa dialami oleh Monica Choflet, seorang guru kelas empat di New Jersey, yang awalnya mencoba beradaptasi, namun akhirnya harus melarangnya. “Saya mencoba menerimanya. Anda tahu, ‘apa jawaban pertanyaan ini’ sebagai guru matematika. ‘Ya Tuhan? 67.’ Sekarang saya benar-benar melarangnya karena sangat mengganggu dan tidak ada artinya dalam percakapan,” ungkapnya kepada Kidspot, menggambarkan bagaimana istilah itu mengganggu fokus belajar.
Para ahli perilaku anak dan media sepakat bahwa orang tua tidak perlu terlalu khawatir mengenai tren “six-seven”. Dr. Becky Kennedy, seorang psikolog klinis dan ibu tiga anak, menjelaskan bahwa tren semacam ini adalah hal yang wajar dalam perkembangan sosial remaja. “Anak-anak mengucapkannya untuk bergaul dengan teman sebaya,” kata Dr. Becky Kennedy, seperti dilansir TODAY.com. Ia menambahkan bahwa ini adalah cara bagi anak-anak untuk merasa terhubung dan menjadi bagian dari sebuah kelompok, menciptakan bahasa bersama dan kode internal yang mengidentifikasi mereka sebagai bagian dari ‘klub’ yang sama.
Sifatnya yang tidak berbahaya secara intrinsik juga menjadi poin penting. “Six-seven” tidak terkait dengan perilaku atau pesan yang berbahaya. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak meme internet yang muncul dan tenggelam dalam popularitas, serupa dengan bahasa gaul dari generasi sebelumnya seperti “YOLO” (You Only Live Once) di kalangan Milenial. Istilah ini berfungsi sebagai lelucon internal, menegaskan identitas kelompok, dan membedakan mereka dari orang dewasa yang tidak “ikut dalam tren”.
Bagi orang tua yang merasa terganggu dengan penggunaan berlebihan frasa ini di rumah, Dr. Becky Kennedy menyarankan pendekatan yang lembut daripada larangan total. Alih-alih langsung melarang, orang tua dapat mengalihkan perhatian atau memberikan batasan yang jelas jika penggunaan “six-seven” mulai mengganggu. Pada akhirnya, ini adalah fase yang akan berlalu seiring munculnya tren slang baru di dunia maya. Dengan pemahaman dan komunikasi yang tepat, orang tua dapat membantu anak-anak mereka menavigasi budaya digital tanpa menimbulkan konflik yang tidak perlu.
Oleh karena itu, meskipun “six-seven” mungkin menguji kesabaran para pendidik dan orang tua, ini lebih merupakan manifestasi dari budaya meme dan cara Gen Alpha untuk mengekspresikan diri dan terhubung satu sama lain di era digital. Memahami konteks dan asal-usulnya dapat membantu orang dewasa merespons fenomena ini dengan lebih bijak.
