Jakarta – Tiga emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang menjadi sorotan pasar modal seiring dengan hampir berakhirnya periode penawaran tender (tender offer) wajib mereka. Ketiga emiten tersebut adalah PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO), PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), dan PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk (FUTR). Proses tender offer ini kerap kali menjadi momen krusial bagi investor untuk mengevaluasi kembali kepemilikan saham mereka, terutama di tengah potensi perubahan fundamental dan struktur kepemilikan perusahaan.
Penawaran tender wajib yang tengah berlangsung ini merupakan bagian dari aksi korporasi strategis, seperti perubahan pengendali atau skema _backdoor listing_. Bagi investor publik, tender offer memberikan kesempatan untuk menjual saham pada harga yang ditetapkan, yang bisa menjadi menarik jika harga penawaran lebih tinggi dari harga pasar. Sebaliknya, hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai prospek saham-saham tersebut setelah periode penawaran tender selesai.
PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) memulai proses tender wajib sahamnya pada 14 Januari 2026. Harga penawaran yang diajukan adalah sebesar Rp 436 per lembar. Investor dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan arbitrase harga, yaitu membeli saham di pasar reguler jika harganya di bawah Rp 436 dan menjualnya kembali melalui mekanisme tender offer untuk mendapatkan keuntungan pasti. Namun, investor juga perlu mempertimbangkan dinamika pasar pasca-tender.
Sementara itu, PT Kharisma Potensia Indonesia (KPI) telah memulai penawaran tender wajib untuk saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) sejak awal Januari 2026, dengan harga penawaran Rp 99 per saham. Aksi korporasi ini sempat menimbulkan spekulasi mengenai perubahan pengendali IATA. Namun, manajemen IATA memberikan klarifikasi. \
