Tim nasional Maroko, dijuluki Atlas Lions, berdiri di ambang sejarah saat mereka bersiap menghadapi final Piala Afrika (AFCON) 2025 melawan Senegal. Bertindak sebagai tuan rumah, Maroko tidak hanya berambisi meraih gelar juara di kandang sendiri setelah puluhan tahun, tetapi juga mengincar dua rekor penting yang saat ini dipegang oleh raksasa sepak bola Afrika, Pantai Gading dan Kamerun. Turnamen edisi ke-35 ini, yang diselenggarakan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), berlangsung di Maroko dari 21 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026, dengan pertandingan puncak akan digelar di Stadion Moulay Abdellah di Rabat. Antusiasme tinggi menyelimuti Maroko yang bertekad menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola benua ini.
Salah satu rekor yang dibidik Maroko adalah catatan nirbobol terpanjang dalam satu edisi AFCON. Saat ini, tim asuhan pelatih Walid Regragui telah mencatatkan empat pertandingan berturut-turut tanpa kebobolan, sebuah pencapaian yang menandai lini pertahanan terkuat mereka di turnamen ini. Mereka sukses mengalahkan Zambia (3-0), Tanzania (1-0), dan Kamerun (2-0), serta bermain imbang tanpa gol melawan Nigeria (0-0) dalam perjalanan menuju final. Jika mampu menjaga gawangnya tetap perawan di laga final, Maroko akan menyamai rekor lima pertandingan nirbobol berturut-turut yang pernah dicapai Kamerun. Namun, rekor absolut masih dipegang oleh Pantai Gading dengan enam *clean sheet* beruntun selama AFCON 2012.
Penampilan gemilang penjaga gawang Yassine Bounou menjadi salah satu kunci solidnya pertahanan Maroko. Bounou telah menunjukkan performa luar biasa di bawah mistar gawang, dengan penyelamatan-penyelamatan krusial yang memastikan gawangnya aman dari kebobolan. “Berkat penampilan tingkat atasnya, tim nasional kini telah melalui empat pertandingan berturut-turut tanpa kebobolan satu gol pun – sebuah rekor pertama dalam sejarah Maroko di final AFCON. Kokoh dan menentukan, Bounou telah memainkan peran utama dalam kualifikasi Maroko ke final,” demikian laporan dari Foot Africa, menggarisbawahi kontribusi vital sang kiper.
Selain rekor defensif, Maroko juga berambisi untuk menjadi negara tuan rumah ke-12 yang berhasil mengangkat trofi AFCON di tanah sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa kemenangan sebagai tuan rumah adalah pencapaian langka namun prestisius. Mesir memimpin daftar ini dengan tiga kali juara di kandang (1959, 1986, 2006), diikuti oleh Ghana (1963, 1978). Ethiopia (1962), Sudan (1970), Nigeria (1980), Aljazair (1990), Afrika Selatan (1996), Tunisia (2004), dan Pantai Gading (2023) juga pernah merasakan manisnya kemenangan di depan pendukung sendiri. Maroko sendiri pernah meraih gelar AFCON satu kali pada tahun 1976. Kemenangan di edisi 2025 ini akan mengakhiri penantian panjang hampir lima puluh tahun bagi The Atlas Lions.
Perjalanan Maroko di AFCON sebelumnya di Pantai Gading berakhir dengan kekecewaan setelah tersingkir secara mengejutkan di babak 16 besar, sebuah hasil yang masih membekas di benak skuad. Pengalaman tersebut menjadi motivasi tambahan bagi anak asuh Walid Regragui untuk tampil maksimal di kandang sendiri dan menebus kegagalan sebelumnya. Turnamen ini diikuti oleh 24 tim nasional pria terbaik Afrika, yang dibagi menjadi enam grup. Setelah fase grup yang ketat, dua tim teratas dari setiap grup, ditambah empat tim peringkat ketiga terbaik, melaju ke babak gugur.
“Walid Regragui’s men are now just one match away from equaling a record held by Cameroon and Côte d’Ivoire. Should they keep another clean sheet in the final against Senegal, Morocco would string together five consecutive matches without conceding a goal in a single edition, according to Opta statistics,” kata analis statistik Opta, seperti dilansir Yahoo Sports, menyoroti tantangan besar yang menanti Maroko. Ini bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang mencetak sejarah dan menunjukkan dominasi pertahanan.
Final yang akan datang bukan hanya sekadar pertandingan untuk memperebutkan gelar, tetapi juga panggung bagi Maroko untuk membuktikan diri sebagai kekuatan sepak bola yang tak terbantahkan di Afrika, di hadapan publik mereka sendiri. Dengan semangat juang tinggi dan dukungan penuh dari para penggemar, Atlas Lions bertekad untuk meraih kedua rekor yang diidamkan dan mengukir nama mereka dalam buku sejarah AFCON.
