Pasar perhiasan emas di Indonesia menunjukkan dinamika menarik pada Senin, 10 November 2025. Harga emas perhiasan terpantau mengalami kenaikan signifikan di berbagai kadar karat, melanjutkan tren penguatan yang terjadi pada komoditas logam mulia ini di tingkat global. Di tengah geliat pasar tersebut, spekulasi mengenai harga emas perhiasan Rp150.000 per gram telah menjadi perbincangan, namun perlu klarifikasi mendalam mengenai konteks di balik angka tersebut.
Klaim adanya harga perhiasan emas di angka Rp150.000 per gram memang menarik perhatian publik, terutama para calon pembeli atau investor. Namun, berdasarkan data terkini dari berbagai platform penjualan emas terpercaya di Indonesia, harga perhiasan emas saat ini berada jauh di atas kisaran tersebut. Kemungkinan besar, angka Rp150.000 merujuk pada satuan berat tradisional di beberapa daerah, seperti ‘suku’ yang umumnya setara dengan 6 hingga 7 gram, atau untuk perhiasan dengan kadar emas yang sangat rendah. Sebagai gambaran, emas perhiasan dengan kadar terendah yang umum diperdagangkan, yakni 5 karat (K5), dibanderol sekitar Rp377.000 per gram, seperti dilansir Bisnis.com.
Pada hari ini, Senin (10/11/2025), harga emas perhiasan 24 karat (99%) di sejumlah butik terkemuka menunjukkan kisaran yang bervariasi. Di platform Raja Emas Indonesia, emas perhiasan 24 karat dibanderol Rp2.100.000 per gram, sementara untuk kadar 5K dihargai sebesar Rp378.000. Situs butik Lakuemas.com mencatat harga beli emas hari ini mencapai Rp2.219.000 per gram untuk emas batangan, mengindikasikan tingginya nilai pasar. Sementara itu, melansir website toko iloveemas.co.id, harga emas 24K mencapai Rp2.100.835 per gram. Untuk kadar 22 karat, harga rata-rata diperdagangkan di sekitar Rp1.655.000 hingga Rp2.050.000 per gram, sementara emas 17 karat berada di kisaran Rp1.276.000 per gram.
Kenaikan harga perhiasan emas ini tidak terlepas dari tren penguatan harga emas dunia. Pada perdagangan hari ini, Senin (10/11/2025) hingga pukul 06.08 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,25% di posisi US$4.008,83 per troy ons, seperti dilaporkan CNBC Indonesia. Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya permintaan terhadap aset ‘safe haven’ di tengah ketidakpastian ekonomi global menjadi pendorong utama kenaikan ini. Faktor-faktor geopolitik serta kebijakan moneter dari bank sentral di berbagai negara juga turut berkontribusi pada fluktuasi harga logam mulia ini.
